esuba.net – Bank merupakan lembaga intermediasi, yang memiliki peran kemudian lembaga pembiayaan dan sekaligus lembaga pendanaan. Karenanya, perbankan dibedakan were 2, yaitu: 1) bank dagang (commercial banking) yang berperan dalam pembiayaan (qardl) dan 2) bank investasinya (investment banking) apa berperan di dalam pendanaan / investasinya (istitsmary). (Baca: bertindak Mendepositokan monetary di Bank batin Islam)

Di samping detik peran di atas, bank tambahan menyelenggarakan sebuah jasa (ijarah). Contoh jasa yang yang dijalankan oleh perbankan ini, adalah: jasa pembayaran, jasa transfer, penerbitan bank garansi, letter that credit, dan sebagainya. Dari jasa ini, perbankan berhak mendapatkan fee (ujrah) apa dalam pemfitnahan segi, ujrah ini dibenarkan melalui syara’, selagi ~ no jasa apa berhubungan dengan debt (dain).

Anda sedang menonton: Hukum kerja di bank menurut mui


*

Sebagai financial institution komersial apa fokus di atas pembiayaan, pihak perbankan menerbitkan tiga jenis produk, yaitu: a) produk simpanan (tabungan, giro, dan deposito), b) produk perkreditan, dan c) produk jasa layanan perbankan (fee based income).

Sementara akun itu bank investasinya (investment banking) apa bergerak batin bidang pendanaan, menerbitkan empat macam produk, yaitu 1), produk simpanan, 2) produk perkreditan, 3) produk investasi, dan 4) produk kerjasama perseroan.

Jika mencermati masing-masing peran dan fungsi senin bank di atas, maka relasi antara bank menjangkau nasabah pada dasarnya juga bisa dipetakan menurut kategori banknya. Pada financial institution komersial, relasi akad apa terjalin antara bank dengan nasabah, bisa ~ dipilah menjadi 3, yaitu: 1) relasi wadi’ah (akad titip) dan/atau qardlu (akad utang), 2) relasi murabahah, qiradl, rahn (gadai), dan 3) relasi akad ijarah (sewa jasa) dan ju’alah (sayembara).

Sementara itu, pada bank investasinya (invesment bank), relasi apa terjadi antara perbankan menjangkau nasabah berlaku 4 macam types relasi, yaitu: 1) relasi wadi’ah atau qardlu, 2) relasi qiradl atau rahn, 3) relasi akad investasinya (mudlarabah atau istitsmary) dan 4) relasi musyarakah (kemitraan).

Nah, dari kedua model perbankan ini, para fuqaha’ ternyata condong diatas penyederhanaan relasi antara nasabah dengan perbankan kemudian 2 saja, yaitu: 1) relasi akad qardl, dan 2) relasi menginvestasikan (istitsmary). Melalui karenanya, keputusan fatwa yang dihasilkan berkaitan dengan “produk perbankan” dan “bunga bank” menjadi terfokus diatas dua relasi akad tersebut, maksimum dengan segala perinciannya. Sebagaimana hal ini diakui melalui Syeikh Ali Jum’ah di batin kitabnya Al-Kalimu al-Thayyib, Juz 1, halaman 148:

أن الخلاف قد وقع في تصور مسألة التعامل في البنوك ومع البنوك وفي تكييفها وفي الحكم عليها وفي الإفتاء بشأنها والقواعد المقررة شرعا

“Sesungguhnya perbedaan ulama batin memandang bank dan produknya, terjadi di atas aspek 1) penjabaran tindakan bermuamalah dengan bank, 2) bertindak bekerja di bank, 3) akad-akad apa berlaku di atas bank, 4) hukum di dalam memandang masalah asibe akad tersebut, 5) fatwa berkaitan dengan mengganggu itu, serta 6) qa’idah yang berlaku bagi bank menurut syara’.” (Al-Kalim al-Thayyibu, Juz 1, page 148).

Berdasar jam bahwa mengurung relasi antara nasabah mencapai perbankan adalah relasi akad qardlu, maka para ulama pengangkutan menetapkan bahwa bunga bank biasanya adalah implisit riba apa diharamkan.

إن من كيّفها قرضا عده عقد قرض جر نفعا فكان الحكم بناء على ذلك أنه من الربا المحرم

“Para ulama yang memandang relasi nasabah mencapai perbankan such akad qardlu (utang), maka mereka menetapkan keputusan bahwa bunga financial institution merupakan bentuk akad hutang dengan memukau kemanfaatan, sehingga hukum apa berlaku berdasarkan chapter ini adalah bunga bank seperti riba yang diharamkan.” (Al-Kalim al-Thayyibu, Juz 1, page 148).

Sementara itu, ulama yang memandang bahwa relasi antara nasabah perbankan menjangkau bank sebagai akad investasi (istitsmary), maka mereka menilai bahwa: Pertama, Akad investasi di atas perbankan konvensional adalah tersirat akad mudlarabah fasidah (bagi hasil yang rusak), ini adalah tetapi bisa ~ dikoreksi menjangkau akad ijarah atau jualah. Sebagaimana halaman ini termasuk bagian apa berhasil diidentifikasi melalui Syeikh Ali Jum’ah melalui pernyataannya seperti berikut:

ومن سلك في التكييف مسلك الاستثمار: فبعضهم عدها من قبيل المضاربة الفاسدة التي يمكن أن تصحح بإجارة

“Ulama apa memandang relasi perbankan mencapai nasabah such menempati akad istitsmar (investasi), maka mereka menempatkan masalah bunga bank itu kemudian akad bagi hasil yang rusak, yang bisa dikoreksi mencapai akad ijarah (sewa jasa).” (Al-Kalim al-Thayyibu, Juz 1, halaman 148).

Pendapat ini menyerupai sebuah pernyataan batin kitab Asna al-Mathalib such berikut:

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ ، وَلَوْ قَالَ لِغَيْرِهِ اقْتَرِضْ لِي مِائَةً ، وَلَك عَلَيَّ عَشَرَةٌ فَهُوَ جِعَالَةٌ فَلَوْ أَنَّ الْمَأْمُورَ أَقْرَضَهُ مِائَةً مِنْ مَالِهِ لَمْ يَسْتَحِقَّ الْعَشَرَةَ

Imam al-Mawardi menegaskan: Jika ada seseoang berkata kepada selainnya “Carikan utangan aku 100, kamu become saya kasih 10, maka akad semacam ini adalah tersirat akad ju’alah (persentase),” dan bila kemudian pihak yang disuruh tersebut menghutanginya sebesar 100 yang diambil dari uangnya sendiri, maka ia tidak berhak atas 10 tersebut.” (Asna al-Mathalib Syarah Raudlatu al-Thalib, Juz 9, halaman 118)

Menghutanginya orang apa disuruh dengan monetary pribadinya, menjadikan akad apa sebelumnya akad ju’alah (prestasi / sayembara) were riba, untuk memenuhi qaidah sebagai debt menarik kemanfaatan. Namun, bila monetary itu diperoleh dari pihak lain (karena peran intermediasi), maka ia berhak menerimanya, buat menjadi akad ju’alah ataukah akad ijarah, yaitu jasa mencarikan utangan sehingga sah baginya resepsi 10 sebagai upah (fee) ataukah ju’lu.

Kedua, dengan menempatkan relasi antara nasabah mencapai bank seperti relasi investasi, maka akad yang berlaku diatas nasabah perkreditan atau pembiayaan, adalah merupakan akad apa baru, sebagaimana kasus akad bai’ bi al-wafa’ yang dikembangkan melalui Abu Su’ud, yang di dalamnya tersimpan makna akad gadai (rahn), namun noël sebagaimana akad gadainya Imam Syafii.

وبعضهم ذهب إلى أنها معاملة جديدة وعقد جديد غير مسمى في الفقه الإسلامي الموروث فاجتهد فيه اجتهادا جديدا

“Sebagian ulama apa berpandangan bahwa akad investasi ini tersirat akad muamalah yang baru dan belum ada di di dalam rangkaian kajian fiqih turats islam. Oleh karenanya akun itu merupakan produk ijtihad yang baru.” (Al-Kalim al-Thayyibu, Juz 1, halaman 148).

Sahnya akad baru ini, di dalam pandangan Syeikh Ali Jum’ah adalah disebabkan untuk syiddati al-hajah (sangat butuhnya umat ​​manusia terhadap jasa perbankan) dan mura’ati al-maslahah (menjaga kemaslahatan), serta bebeberapa alasan lainnya (Lihat: Al-Kalim al-Thayyibu, Juz 1, halaman 148!).

Karena memandang terjadinya khilaf di atas dalam memandang relasi akad antara nasabah mencapai perbankan, maka solusi apa diberikan malalui para ulama’, dan diwakili malalui Syeikh Ali Jum’ah, adalah:

أولا: أنه إنما ينكر ترك المتفق على فعله أو فعل المتفق على حرمته ولا ينكر المختلف فيه ثانيا: أن الخروج من الخلاف مستحب ثالثا: أنه من ابتلي بشيء من المختلف فيه فليقلد من أجاز

Pertama, sesungguhnya yang hendaknya dijauhi adalah “meninggalkan sesuatu apa sudah disepakati kebolehannya”, ataukah “melakukan sesuatu yang sudah disepakati keharamannya”. Sementara itu, untuk sesuatu apa masih diperselisihkan hukumnya, maka tidak boleh diingkari. Kedua, keluar dari selisih pendapat merupakan yang dianjurkan. Alhasil, maka ketiga, sesungguhnya orang yang benar-benar butuh terhadap sesuatu yang masih di dalam ruang diperselisihkan hukumnya, maka seyogynya ia mengabadikan pendapat mencapai mengikut pada ulama yang membolehkan.” (Al-Kalim al-Thayyibu, Juz 1, halaman 148)

Dengan demikian, bagaimana itu? hukum orang apa bekerja di bank menurut konteks kajian ini?

Berbekal kesimpulan last terkait dengan bertindak bermuamalah dengan bank, maka dapat disimpulkan bahwa karena status bunga financial institution merupakan apa hingga detik ini masih diperselisihkan sah atau tidaknya melalui para ulama, maka batin hal ini, bagi karyawan perbankan sebaiknya mengikut di ~ pendapat ulama’ yang membolehkan.

Lihat lainnya: Streaming One Man Show Indosiar Lesti Dan Rizky Billar Full, Lesti Kejora & Rizky Billar

Sudah barang pasti, bab ini juga mempertimbangkan context pengambilan pendapat para fuqaha’, sejauh ini masih terpaku pada pembagian relasi antara bank dengan nasabah seperti relasi qardl (kredit) dan istitsmary (investasi) saja.

Alhasil, masih ada relasi lain yang belum banyak dikupas malalui para fuqaha’ sehingga hukum pun masih requires perincian lebih lanjut. Menjangkau demikian, solusi mengikut pada ulama yang membolehkan adalah solusi terbaik bagi karyawan perbankan konvensional. Wallahu a’lam bi al-shawab